Jumat, 22 Oktober 2010

Koksidiosis

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

Laporan ko-assistansi parasitologi

Oleh:
Muharimansyah, S.Kh. Ilman, S.Kh. Iramadani, S.Kh. Eri setiawan, Rima Asmara Yus, S.Kh, Sonia Louice, S.Kh. S.Kh. Jonizar, S.Kh.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dalam usaha memenuhi peningkatan protein hewani di pasar Nasional, maka salah satu usaha adalah meningkatkan produktivitas, namun tidak terlepas dari penanggulangan penyakit yang sering menyerang ternak unggas dan beberapa jenis mamalia. Diantara penyakit yang sering mendatangkan kerugian ekonomi yang cukup besar dalam suatu kawanan hewan ternak adalah koksidiosis.

Koksidiosis adalah salah satu penyakit parasitik yang umum terjadi pada ayam umur muda, yang disebabkan oleh berbagai jenis Eimeria. Ayam yang terserang penyakit ini akan mengalami penurunan berat badan, menjadi lemah dan kurus, atau bahkan mati S.J.A. Setyawati dan Endro Yuwono (2006). biasanya penyakit ini berjalan akut. Ayam yang terserang menjadi lemas, pucat, bulu kusam, kurus dan tinjanya bercampur darah, pada infeksi yang berat dapat terjadi kematian. Perubahan pascamati terbatas pada usus, mulai dari duo-denum (usus 12 jari) sampai ke kloaka. Namun kerusakan pada usus ini bervariasi, tergantung berat ringannya infeksi dan spesies parasitnya Tarmudji dan M. Soleh, (2009).

Tabu,. (2000) menyatakan bahwa koksidiosis merupakan penyakit protozoa yang sering menyerang unggas dan berbagai jenis burung, yang bersifat diare enteritis. Kecuali koksidiosis pada ginjal yang menyerang angsa. Pendapat serupa dipaparkan oleh Levine D. Norman (1980) kebanyakan koksidia merupakan parasit intra seluler dari alat pencernaan, tetapi beberapa berada dalam hati dan ginjal. Setiap jenis koksidia terdapat pada lokasi yang khas dan terdapat dalam saluran pencernaan dari induk semang dengan tipe yang khas pula.

Sebelum wabah koksidiosis terjadi di peternakan, usaha terbaik adalah dengan mencegah timbulnya penyakit tersebut dengan menerapkan manajemen pemeliharaan yang ketat dan pencegahan harus diberikan segera apabila diperkirakan akan terjadi wabah. Upaya pencegahan yang lain, dapat dengan pengebalan atau imunisasi aktif dengan menginfeksi ookista normal atau dapat juga dengan pengebalan pasif menggunakan serum ayam yang telah kebal terhadap koksidiosis (Setyawati dan Endro 2006).

Material dan Metodelogi Pemeriksaan

Waktu dan tempat pemeriksaan

Penelitian ini dilakukan di beberapa lokasi di banda aceh dan aceh besar dan selanjutnya diperiksa di laboratorium parasitologi fakultas kedokteran hewan unsyiah yang berlanggsung dari tanggal 16 agustus – 23 september 2010.

Materi pemeriksaan

Dalam penelitian ini digunakan sampel feses yang diambil dari 14 jenis hewan dari lokasi yang berbedah di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam pemeriksaan ini adalah miskroskop, sentrifus, tabung sentrifus, tabung reaksi, mortar, pipet tetes, objek glass, cover glass, sedangkan bahan yang digunakan dalam pemeriksaan ini adalah aquadest, NaCl jenuh, metilen blue.

Metode pemeriksaan

1. Metode Natif

* diambil segumpal feses lalu diletakan di atas objek glass

* teteskan aquadest secukupnya kemudian diratakan

* tutup dengan dengan kaca penutup

* selanjutnya diperiksa di bawa mikroskop dengan pembesaran 10x10 atau 10x100.

2. Metode Apung

* ambil 1 gram feses dan dimasukkan ke dalam mortar

* lalu ditambahkan 5 ml larutan NaCl jenuh

* gerus sampai halus dan kemudian homogenkan

* selanjutnya ditambahkan lagi 20 ml NaCl jenuh dan diaduk sampai homogen

* disiapkan tabung reaksi pada posisi tegak lurus dan larutan tadi dimasukan hingga permukaan tabung cembung.

* Didiamkan selama 15 menit

* Kemudian sentuh permukaan bawa kaca penutup dengan hati-hati lalu letakkan di atas objek gelass

* Kemudian di periksa di bawa mikroskop dengan pembesaran 10x10.

3.Metode Sentrifus

* Diambil 2 gram feses lalu di masukan ke dalam mortar dan tambahkan aquadest secukupnya hingga terbentuk larutan

* Selanjutnya dituangkan ke dalam tabung sentrifus hingga ¾ tabung

* Diputar dengan putaran cepat selama 5 menit

* Cairan diatas endapan di buang

* Tambahkan NaCl jenuh hingga ¾ tabung lalu di aduk sampai tercampur rata

* Kemudian diputar lagi dengan kecepat
an tinggi selama 5 menit

* Diletakan tabung sentrifus tegak lurus di rak tabung

* Diteteskan NaCl jenuh dengan pipet pada permukaan cairan dalam tabung tadi menjadi cembung dan biarkan 3 menit selanjutnya tempelkan objek glass diatas permukaan cembung tadi dengan hati-hati lalu cepat-cepat di balikkan

* Tutup dengan kaca penutup dan periksa di bawa mikroskop 10x10.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam pemeriksaan ini dikumpulkan 14 jenis feses hewan dari beberapa lokasi di kota Banda Aceh & Aceh Besar secara terperinci dapat di lihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah sampel dan jenis hewan yang di ambil dari beberapa lokasi di kota Banda Aceh dan Aceh Besar.

No

Jenis hewan

Asal hewan

Jumlah sampel

1.

Merpati

Sibree

1

2.

Kelinci

Stui

1

3.

Ayam buras

Ruko

1

4.

Puyu

Limpok

1

5.

Kambing

Lamnyong

1

6.

Sapi perah

Exfarm peternakan

1

7.

Kerbau

Sibree

1

8.

Domba

Darusalam

1

9.

Kucing

Darusalam

1

10.

Bebek air

Lamnyong

1

11.

ikan mujair

Lamnyong

1

12.

Ikan mas koki

Sibree

1

13.

Ikan lele

Peunayong

1

14.

Ikan

Lamnyong

1

Etiologi

Berdasarkan hasil pemeriksaan dengan metode natif terhahadap 14 sampel feses terdapat 6 sampel positif terdapat Emeria yaitu pada sample feses merpati, kelinci, ayam buras, puyu, kambing dan sapi perah, sedangkan pada metode sentrifus terdapat 2 sampel positif yaitu pada kambing dan sapi perah, serta metode apung juga ditemukan 2 sampel positif pada kelinci dan sapi perah. Rincian hasil uji metode natif, sentrifus, dan apung (Tabel 2).

Gambar.1. Hasil pemeriksaan Eimeria, Sp

Menurut Rahayu I. D. dkk., 2010) banyak sekali spesies Eimeria akan tetapi tidak semuanya patogen. Eimeria yang sering menyerang ayam, antara lain : E. tenella, E. necatrix, E. acervulina, E. brunetti, E. hagani, E. mitis, E. praecox, E. mivati, E. tyssarni dan E. myonella., dan Eimeria pada ternak kambing : E. christenseni, E. crandallis, E. faurei, E. gilruthi, E. granulosa, E. hawkinsi, E. intricata, E. ninakohlyakimovae, E. pallida, E. parva, E. punctata,. sedangkan Eimeria pada yang umum dijumpai pada kelinci adalah E. Perforans., Serta Eimeria pada sapi E. Alabamensis, E. Brasiliensis, E. Bukidnonensis, E. Canadensis, E. Pellita, E. Subspherica, E. Wyomingensis, E. Cylindica, E. Ellipsoidalis, E. Illinoisensis (Levine N. D. 1990).

Tabel 2. Hasil Uji Metode Natif, Sentrifus, dan Apung terhadap 14 sampel feses dari beberapa lokasi di Banda Aceh dan Aceh Besar.

No

Jenis hewan


Metode uji




Uji natif

Uji sentrifus

Uji apung

1.

Merpati

+

-

-

2.

Kelinci

+

+

-

3.

Ayam buras

+

-

-

4

Puyu

+

-

-

5

Kambing

+

-

+

6

Sapi perah

+

+

+

7

Kerbau

-

-

-

8

Domba

-

-

-

9

Kucing

-

-

-

10

Bebek air


-

-

11

Ikan mas koki

-

-

-

12

Ikan muzair

-

-

-

13

Ikan lele

-

-

-

14

Anjing

-

-

-

Gejalah klinis

Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel feses yang positif Eimeria ditemukan pada 6 jenis hewan akan tetapi dari Ke-6 jenis hewan tersebut hanya 1 sampel saja yang menunjukan gejalah kelinis yang khas yaitu pada sampel feses ternak puyu dengan gejalah buluh kusam dan kasar, sayap terkulai, kaki bengkok, sereta feses bercampur darah. Meskipun demikian 5 jenis hewan lain tidak menunjukan gejalah klinis namun sangat berpengaruh terhadap produktivitas kawanan hewan tersebut dan bahkan dapat bersifat karir bagi kawanannya. Sesuai dengan pernyataan Rahayu I. D. (2010) Koksidiosis berjalan secara akut dan ditandai dengan defresi, bulu kusut dan diare dengan tinja berwarna hijau, napsu makan hilang, muntah darah, paralisa dan diikuti kematian akibat kolaps. Unggas yang terinfeksi E. tenella memperlihatkan gejala kepucatan pada balung (jengger) dan pial disertai sekum yang bercampur darah. Pada penyakit yang tidak menunjukkan gejala klinis, maka ditandai oleh penurunan produksi telur dan daya tetas serta bobot badan. keseimbangan infeksi antara hospes dan koksi (balance of infection), tidak ada gejala klinis dan tidak ada kerugian secara ekonomis. Hal ini disebabkan karena intake ookista dalam jumlah kecil, tingkat imunitas yang tinggi dari hospes, berkaitan dengan chemoprophylaxis (pencegahan kimiawi), manajemen yang baik (Hananto, 2010).

Subklinikal Koksidiosis: tidak ada gejala klinis tetapi ada kerugian secara ekonomis. Kondisi ini biasa ditemui pada broiler komersial. Faktor yang ikut bertanggung jawab adalah jenis species Eimeria , jumlah intake ookista sedang, chemoprophylaxis yang tidak tepat, partial immunity dari hospes, manajemen konvensional. Klinikal Koksidiosis: gejala klinis terlihat, kerugian ekonomis, kematian ayampun sering muncul. Faktor yang mempengaruhi adalah spesies Eimeria jumlah besar intake ookista, tidak mempunyai immunitas, resistensi dari obat, kesalahan feedmill, manajemen yang buruk. Klinikal Koksidiosis: gejala klinis terlihat, kerugian ekonomis, kematian ayampun sering muncul. Faktor yang mempengaruhi adalah species Eimeria , jumlah besar intake ookista, tidak mempunyai immunitas, resistensi dari obat, kesalahan feedmill, manajemen yang buruk (Hananto, 2010).

Patogenesis

Patogenisitas yang paling tinggi terjadi pada umur 3 – 6 minggu. Sanitasi dan desinfeksi kandang serta peralatannya secara teratur harus dilakukan oleh peternak. Juga perhatian khusus harus diberikan untuk mencegah adanya litter yang basah, karena tempat tersebut merupakan pusat dari penyebaran penyakit pada ayam yang dipelihara pada kandang postal (Hananto, 2010). Lesi-lesi yang ditimbulkan oleh koksidia memiliki kekhasan tergantung dari spesies yang menyerang. Kekhasan tersebut sebagaimana dijelaskan di bawah ini.

· E. acervulina dan E. Mivati, meyebabkan daerah perdarahan 1 – 2 cm yang diselingi fokus berwarna putih yang terlihat di sepanjang lapisan serosa duodenum bagian belakang (distal) dan yeyunum bagian depan (proksimal).

· E. necatrix, menimbulkan penggembungan yang berlebihan pada bagian tengah yeyunum dengan perdarahan pada mukosa dan cairan berwarna kemerahan di dalam lumen usus.

· E. maxima, menyebabkan penggembungan pada bagian tengah yeyunum dengan perdarahan pada lapisan mukosa.

· E. Tenella, menimbulkan radang perdarahan sekum/usus buntu.

· E. brunetti, menimbulkan perdarahan mukosa bagian distal yeyunum dan kolon Rahayu I. D. (2010).

Siklus hidup

1). setelah tertelannya Ookista bersporulasi (kista infektif) karena adanya enzim pencernaan didalam saluran pencernaan (empedal) Ookista akan tercerna, sehingga terbebaslah Sporokista. Setelah sampai di dalam lumen usus halus, Sporozoit akan diaktifkan oleh cairan empedu dan tripsin, sehingga 1). Sporozoit terbebas, 2). selanjutnya akan memasuki sel epitel saluran pencernaan 3). Membulat, tumbuh, dan terjadi Meron generasi kedua 4). sehingga terbentuk banyak Merozoit generasi pertama. Proses Merogoni terjadi beberapa kali (tergantung spesiesnya) dan setiap proses Merogoni, 5). Yang kemudian melepaskan diri keluar dari sel induk semang 6). Merozoit yang terbentuk menginfeksi sel epitel yang baru, 7,8). Membulat, tumbuh, dan terjadi generasi meron ke dua 9), Meron generasi kedua ini akan memproduksi sejumlah besar Merozoit generasi kedua 11). Melepaskan diri dari sel induk semang 12,13). Beberapa diantaranya memasuki sel epitel usus induk semang yang menjadi meron generasi ke tiga 14). Yang memproduksi Merozoit generasi ketiga 15). Merozoit generasi ke tiga 16,17). Dan sebagian merozoit generasi kedua memasuki epitel yang baru beberapa diantaranya menjadi Mikrogamon 18). Setiap mikrogamon memperoduksi jumlah besar mikrogamet 19,20). Yang lainnya berubah menjadi Makrogamet 21). Makrogamet dibuahi oleh mikrogamet dan menjadi Zigot 22). Yang membungkus dirinya sendiri dengan dinding tebal di sekitarnya dan berubah menjadi Ookista muda . Ookista keluar dengan memecah sel induk semang dan keluar bersama tinja 23). Ookista tersebut kemudian mulai bersporulasi. Sporon mebuang badan kutub dan membentuk empat Sporoblas 24). Kemudian masing-masing membentuk sporokista yang berisi sporozit 24). Bilamana Ookista yang telah beropulasi tertelan oleh seekor ayam , sporozoit itu terbebas Levine D. Norman (1980).

Diagnosa

Diagnosa sangkaan terhadap koksidiosis dapat di dasarkan atas gejalah klinik, perubahan patolgik yang berhubungan dengan lokasi sejumlah besar ookista atau stadium aseksual Eimeria (sporozoit, merozoit, skison) dan riwayat kasus Tabbu, (2000). Diagnosa laboratorium dapat dilakukan dengan melakukan uji natif, uji apung dan uji sentrifus terhadap feses yang diduga terinfeksi Eimeria, Sp. (Anonimus, 2009).

Program Pencegahan

Upaya pencegahan yang di lakukan selama ini adalah dengan memberikan obat-obatan anti koksidia dan meningkatkan kekebalan dengan vaksinasi. Vaksin yang sudah perna dicoba di laboratorium adalah vaksin bentuk sporozit. Pengunaan vaksin sporozoit didasarkan pada siklus hidupnya bahwa sporozoit merupokan stadium infektif pertama yang masuk ke dalam sel induk semang dan merupakan stadium pertama yang kontak dengan respon induk imun induk semang (Prastowo J. dkk,. 2005). Menurut pendapat Rahayu I. D. (2010). Tindakan pencegahan terhadap penyakit koksidiosis yang penting dilakukan adalah pengaturan sistim ventilasi udara yang baik, pengaturan kepadatan kandang yang sesuai dengan kapasitasnya, penyediaan tempat pakan dan minum yang cukup. Khusus untuk pengaturan tempat air minum, sebaiknya diusahakan menggunakan model nipple drinker, sehingga tidak banyak air yang tumpah ke litter. Hal ini akan mengurangi resiko kelembaban yang tinggi dalam litter. Disarankan juga memberikan koksidiostat.

Pengobatan

Pengobatan pada kandang yang terinfeksi harus segera dilakukan secepat mungkin setelah ada hasil diagnosa atau lebih baik lagi segera setelah diduga ada koksidiosis. Untuk ayam yang memperlihatkan gejala klinis yang hebat, pengobatan biasanya terlambat. Karena protozoa tersebut hanya peka/ sensitif terhadap pengobatan pada tahap pertama pertumbuhan dalam tubuh hospes (stadia Skizogoni) yaitu mulai hari kedua hingga kelima.Dosis dan lama pengobatan harus disesuaikan dengan berat ringannya kasus serta jenis Eimeria yang menginfeksi. Seperti E.necatrix dan E.tenella sebaiknya diberikan 1.5 – 2 kali dosis. Pada kasus yang berat, pemberian vitamin K dan vitamin A sangat membantu penyembuhan penyakit. Dilapangan dominasi treatmen terhadap koksi adalah golongan sulfa, meskipun impresi negatif terhadap golongan ini banyak namun tetap menjadi pilihan utama. Sekali lagi tidak mudah mencairkan stigma tersebut. Sulfaclozin dan sulfachloropyridazin adalah contoh yang menarik untuk disimak, karena dari berbagai referensi keduanya tidak ber-impact negatif terhadap pertumbuhan, produksi ataupun terjadinya kristalisasi diginjal Hananto, (2010).

1. Pengobatan selama 3 hari, diulang jika gejalanya tampak lagi (3 on -2off -3 on) atau
2. Pengobatan dilakukan pada hari ke- 1, 3, 5, 7 dan 9 atau
3. Pengobatan dilakukan pada hari ke- 1, 2, 5, 6 dan 9 atau
4. 1-2 gram/ liter pada hari ke- 1; 0.5 – 1 gram/ liter pada hari ke 2 sampai ke -6

Dengan strategi yang diterapkan sejak dari awal, diharapkan kejadian ataupun ancaman koksidiosis bisa diminimalkan bahkan benar-benar terbebas dari kasus tersebut Hananto, (2010).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil pemeriksaan Eimeria Sp. terhadap 14 sampel hewan ini menunjukan bahwa 42 % hewan ditemukan Eimeria Sp., namun hanya 1 (7,1 %) jenis hewan yang menunjukan gejalah kelinis yang khas sedangkan 5 (35,7 %) jenis hewan lain tidak menunjukan gejalah kelinis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat patogenitas Eimeria Sp. ditentukan oleh tingkat keganasan genus Eimeria, Sp. dan kondisi serta spesies hewan yang terinfeksi. Hasil pemeriksaan ini memberi gambaran bahwa perlu dilakukan penerapan manajemen biosekuriti dan melakukan vaksinasi tehadap hewan di Kota Madya Banda Aceh dan Aceh Besar.

Saran

Meskipun penyakit koksidiosis tidak bersifat zoonosis akan tetapi beresiko terhadap kesehatan hewan dalam populasi sehingga dapat berdampak pada kerugian ekonomi untuk itu direkomendasikan perlu adanya penerapan manajemen biosekuriti dan vaksinasi aktif ataupun pasif untuk mendapatkan hasil produksitivitas protein hewani di Provinsi Aceh dapat terpenuhi.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Anonimus, 2009. Penuntun Peratikum Parasitik Fakultas Kedokteran Hewan . Unsyiah

Hananto, 2010. Langkah-langkah komprehensif dalam mencermati serta mengendalikan Koksidiosis.content&view=article&id=77: langkah-langkah-komprehensifdalam-mencermati-serta-mengendalikan-k oksidiosis&catid=3:newsflash&Itemid=57

Prastowo J., Wisnu , N,. Kurniasih dan Wasito 2005. Identifikasi antigen ekresi- sekresi soporozoit Eimeria tenella dengan mengunakan antibodi monoklonal J.Anim. Prod. Vol. 7 No. 2.

Rahayu I. D. (2010). Parasit-Parasit Pada Unggas http.imbang.staff.umm.ac.id/files/2010/.../Penyakit-Parasit-Unggas.doc

S.J.A. Setyawati dan Endro Yuwono, 2006. Upaya Peningkatan Kekebalan Broiler terhadap Penyakit Koksidiosis melalui Infeksi Simultan OokistaAnimal Production. Vof. 8, No. I, Januari ZOO6 : 72 77. http://jurnal.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?act=tampil&id=743&idc =36

Tabbu, R.C., 2000. Penyakit Ayam dan Penangulangannya Penyakit Bakterial, Mikal dan Viral. Kanisius, Yogyakarta.

Tarmudji dan M. Soleh, 2009. Mengatasi Berak Darah Dengan Patikan Kebo http://www.litbang.deptan.go.id/artikel/one/122/pdf/Mengatasi%20Berak %20Dar ah%20Dengan%20Patikan%20Kebo.pdf

Levine, N.D., 1978. Textbook of Veterinary Parasitology. Penterjemah G. Ashadi. 1990. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

0 komentar: