Mencium aroma rupiah….!!! Maksud saya di sini bukan mencium aroma rupiah dengan mendekatkan uang ke hidung. Tetapi membaca keadaan lingkungan yang bisa di manipulasi menjadi aktivitas usaha. Sebagai pelaku usaha di butuhkan Sense of entrepreneurship yaitu kecendrungan untuk membaca peluang usaha.
Bicara so’al bisnis tentu berbicara tentang untung. Mencari untung dalam bisnis tentu harus dengan bisnis yang tepat, tepat bisnisnya, tepat lokasinya, tepat keadaannya, tepat produknya dan tepat sasaran pasarnya. Minsalnya, kawasan kampus sasaran pasarnya tentu berhubungan dengan mahasiswa dan aktifitas akademik . Nah! dalam memulai aktifitas bisnis tentu harus dengan perhitungan kalaupun tidak matang sedikit banyaknya perlu di lakukan SKB (Study Kelayakan Bisnis) paling kurang dengan melihat-lihat keadaan sekitar.
Dalam tulisan ini saya tidak mengulas bagaimana berbisnis dengan baik. Hanya mengulas bagaimana bisnis berjalan sebaiknya menurut kacamata masyarakat biasa maksudnya menurut pandangan saya karena bidang akademik saya bukan ilmu ekonomi, begitu kira-kira. Referensi saya adalah aktifitas usaha di seputaran Kota Banda Aceh. Saya hanya mengulas beberapa pendekatan yang perlu deperhatikan, antara lain:
Kearifan lokalKearifan lokal menjadi penting bila produk yang ditawarkan itu sasarannya juga masyarakat setempat. Sebagai contoh warung kopi adalah kearifan lokal bagi masyarakat aceh terutama masyarakat aceh wilayah pesisir. Budaya nongkrong di warung kopi sudah umum di daerah Aceh. Selain itu kearifan rasa juga perlu di perhatikan maksudnya kebiasaan yang telah terjadi secara turun temurun. Misal mulut kita orang aceh pesisir sejak kecil sudah terbiasa disuguhi sayur pliek ue maka setelah dewasa rasa itu sudah terbiasa di lidah kita, bila sudah lama tidak makan sayur pliek maka rasa rindu ingin makan sayur pliek akan muncul, Soo ini adalah aroma rupiah yang menggoda bagi yang memiliki jiwa sense of intrepreneurship.
Daya Beli
Produk yang di tawarkan dengan daya beli sangat menentukan apakah suatu produk bisa laku di pasaran. Misalnya bila berjualan di kawasan kampus tentu harus di sesuaikan dengan harga anak kos. Dalam suasana seperti ini yang perlu di pikirkan bukan untung besar dari harga yang tinggi tetapi keuntungan dari kelancaran perputaran produk yang di maksud di pasaran dengan harga rendah dan keuntung sedikit dalam sauatu produk tetapi laku keras. Logikanya misalkan warung dua ruko sederet satu namanya warung Nasi si A menjual Nasi Rp. 6,000,00,-/Porsi sedangkan Warung Nasi si B menjual Nasi dengan harga Rp. 5,000,00,-/Porsi jika si pembelinya adalah anda yang dari golongan ekonomi menengah ke bawah tentu anda akan membeli di warung si B bukan, bayangkan jika dari -/+ 25.000 mahasiswa Unsyiah 20% nya adalah pengkonsumsi makanan warung makan maka ada kemungkinan 5000 mahasiswa bisa makan di warung nasi si B. Hanya perlu tambahan promosi dan perluasan warung si B pasti akan jauh lebih ramai dari pada warung nasi manapun yang lebuh mahal. Mahasiswa di Indonesia khususnya mahasiswa di aceh kebanyakan adalah mahasiswa dari keluarga ekonomi kelas menengah ke bawah yang tentu kebanyakan harus perhitungan bila memilih suatu produk makanan atau jasa, ini tentu aroma rupiah juga.
Prestise
Prestise atau ketenaran juga merupakan daya tarik bagi pembeli, kesan mewah orang-orang yang datang kesuatu tempat yang di kenal bergengsi memungkinkan pembeli merogoh koceknya lebih dalam meskipun suatu produk yang sama di jual dengan harga murah di toko atau tempat yang sederhana. Missal, paha ayam yang ada di KFC tidak lebih bergizi dengan Fried chicken yang di jual di grobak kaki lima dengan harga mungkin lebih murah tetapi orang cenderung banyak memilih ayam goreng KFC. Hal ini karena pertimbangan prestise perasaan berkelas.
Pakayan dengan merek dan mutu sama di jual di Pasar Aceh dan di toko biasa tapi lebih laku di pasar aceh walau lebih mahal, loh kenapa..? ya tentu jualan di pasar Aceh harus dengan modal sewa yang lebih besar dari pada toko biasa karena lakasinya lebih starategis. Jadi di butuhkan modal lebih besar. Jualan di pasar aceh tentu lebih berkelas di banding toko biasa si sekitarnya.
Bagaimana membangun prestise?? Ini yang yang agak lama atau butuh biaya besar. Di butuhkan biaya iklan agak besar untuk mepromosikan suatu produk atau jasa. Semakin lama suatu suatu toko atau lokasi penjualan di kenal orang maka akan semakin besar kedekatan dengan ingatan masyarakat. Promosi yang jitu. Contoh, Bubuk Kopi Ulee Kareng di Banda Aceh kini telah menjadi tren di kalangan masyarakat karena telah lama ada dan di kenal masyarakat. Malah timbul selogan “ Kalau ngopi ya di ulee kareeng tempatnya” sampai-sampai produk Kopi Ulee Kareng kini mengembangkan bisnisnya lagi menjadi kopi saset dengan nama produk sama mulai memenuhi permintaan pasar di di beberapa Proiensi di Indonesia mungkin juga Manca Negara.
Produk Sepeda Motor Honda di dataran tinggi Gayo adalah nama umum semua sepeda motor, mengapa?? Karena Produk sepeda motor Hondalah yang pertama masuk ke sana sehingga tertanam paradikma orang Gayo semua speda motor adalah Honda, kalau naik speda motor berarti naik Honda, seandainya speda motor itu produk perusahaan Yamaha berarti naik Honda Yamaha. Soo bukankah Prestise adalah aroma rupiah yang luar biasa bukan..?? selain itu mutu, pelayanan dan lain-lain tentu juga perlu dalam menjalankan usaha.
Suatu hari saya mengantarkan saudara perempuan saya pergi Check Up ke Dokter di Klinik Cempaka Lima. Kami sering terlibat diskusi tentang “Membaca Aroma Rupiah” di sekitar lingkungan yang kami singgahi atau lewati. Jalan kantor Camat Syiah Kuala adalah rute yang kami lewati. Di perjalanan kami melihat sebuah “kios” saya menyebutnya kios karena ukurannya yang sederhana barlantaikan tanah dan pasir, atap tambahan yang di perluas dari plastik.
Kios kecil namun pengunjungnya ramai dan banyak speda motor yang parkir di depan dan sampingnya, begitu juga yang sering saya lihat hampir tiap hari karena jalan ini adalah area perlintasan saya. Produk yang di tawarkan adalah “Bakso” di depan gerobaknya-nya sebuah spanduk selebar 1x2 Meter membentang bertuliskan “Bakso Al-Demawi” dengan gambar beberapa porsi bakso.
Pulangnya kami sepakat untuk singgah mencoba mencicipi dan membaca sisi apa yang membuat kios bakso ini selalu ramai. Bakso kami pesan dua porsi “saya dengar logat bahasa jawa saya pun sok pakai bahasa jawa “Bakso ne loro mas, sing wenak yo??” (baksonya dua mas, yang enak ya…?). Sambil makan bakso diskusi kami lanjutkan, akhirnya kami sepakat memberi skor tujuh untuk rasa baksonya dan enam untuk tempatnya. Loh..!! Skor yang kami bisa beri cuman segitu tapi kok selalu ramai ya…!!! Nah..!! yang penting adalah kami memberi skor 9 untuk harga baksonya karena di bandingkan dengan harga di tempat lain biasanya kalau dua porsi sekitar Rp. 16,000an tapi di sini cuman Rp.11,000an plus kerupuk dan rasa yang tidak kalah dengan tempat lain. Ternyata Mas tukang bakso ini bisa mencium aroma rupiah dari daya beli kantong mahasiswa di produk dagangannya. Wallahu alam bishawab…!!
*Penulis adalah Komisaris Intermezzo_net Banda Aceh
2 komentar:
mantabbbbhhh
Tips and Trik Blogger Tutorian || http://www.duniatutorial.com/ ||
Poskan Komentar